Mengenai Saya

Foto Saya
hiduup q yang penuh batuu dan durii..tapii dengan sepertii ini lah aku semangat untuk menjalani harii- harii kuu..

Sabtu, 30 April 2011

pelayanan kespro pada PUS dan MENOPOUSE

BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Setiap manusia dalam hidupnya mengalami beberapa tahapan perkembangan. Tahap yang dilalui dalam perkembangan setiap kehidupan manusia, meliputi :
a.Tahap anak dalam kandungan, kemudian lahir.
b.Tahap anak
c.Tahap dewasa muda
d.Tahap dewasa tua
e.Tahap tua, untuk kemudian meninggal.
Dalam rangka mempertahankan jenisnya di dunia ini, semua makhluk hidup memiliki sistem perbanyakan jenis atau sistem berkembang biak yang disebut pula sistem reproduksi. Perkataan reproduksi di sini diartikan sebagai produksi keturunan.
Dikenal dua macam cara reproduksi, yaitu reproduksi seksual dan reproduksi aseksual. Pada reproduksi seksual, keturunan baru lahir setelah suatu proses yang melibatkan sel kelamin. Suatu reproduksi seksual dapat bersifat biseksual, bila keturunan tersebut terjadi akibat penyatuan 2 jenis sel kelamin, yaitu sel kelamin jantan dan sel kelamin betina. Reproduksi seksual dapat juga bersifat uniseksual atau disebut partenogenesis, bila munculnya makhluk baru terjadi dengan hanya melibatkan satu jenis sel kelamin saja misalnya sebagai wujud pengembangan sel telur yang tidak dibuahi. Pada reproduksi aseksual, perkembangbiakan terjadi tanpa melibatkan sel kelamin, misalnya melalui pembelahan diri atau penumbuhan tunas baru.

Pada manusia terjadi reproduksi biseksual. Proses reproduksi ini mulai dengan bertemunya sel mani dari pria dengan sel telur dari wanita, sehingga wanita tersebut menjadi hamil untuk kemudian manusia baru. Sejak dahulu kala, manusia telah berusaha untuk mengendalikan fungsi reproduksinya dengan berbagai cara. Pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi tubuh manusia, khususnya tentang sistem reproduksi manusia, amat memacu perkembangan upaya pengendalian kelahiran, yang menjadi upaya pendukung utama dalam keluarga berencana.
Pembicaraan tentang sistem dan alat reproduksi pria dan wanita kadangkala dianggap tabu, akan tetapi dalam pelaksanaan tentang ini perlu disebarluaskan kepada masyarakat melalui para petugas secara bertanggung jawab, guna memperlancar upaya perencanaan kelahiran dalam keluarga, menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera. Di bawah ini diuraikan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi manusia, faktor yang berpengaruh serta reproduksi sehat manusia.

Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Manusia. Anatomi adalah ilmu yang mempelajari susunan bagian tubuh dan menguraikannya satu persatu. Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari kerja atau faal/fungsi bagian atau alat tubuh. Sesuai dengan sistem reproduksi manusia yang bersifat biseksual, di bawah ini akan diuraikan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi pria dan sistem reproduksi wanita.

Reproduksi manusia juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tergolong psikoedukatif, yaitu faktor kejiwaan dan pendidikan atau pengetahuan manusia. Kesadaran akan gawatnya masalah kependudukan suatu negara, merupakan motivasi untuk upaya pentingnya memelihara kesehatan ibu dan anak Berta keluarga, membuat para pasutri mempraktekkan keluarga berencana. Dalam banyak hal, pendidikan kaum wanita berpengaruh positif terhadap pengendalian reproduksinya.

Faktor yang tergolong dalam kelompok sosial budaya memberi pengaruh pula terhadap reproduksi manusia. Pandangan bahwa anak laki-laki lebih berharga daripada wanita, banyak anak banyak rejeki seringkali menjadi pendorong pemacuan terhadap fungsi reproduksi, bahkan seringkali dengan melupakan akibat buruk terhadap kesehatan ibu dan anak.
Rendahnya status kaum wanita dalam budaya sesuatu bangsa serta peranan wanita yang terbatas pada pengelolaan rumah tangga saja, seringkali mengakibatkan pengaruh negatif pada reproduksi manusia.

B. Rumusan masalah
• Jelaskan apa yang di maksud dengan pelayanan kesehatan reproduksi pada WUS, PUS dan Menopouse / klimakterium.
C. Tujuan penulisan
• Memenuhi tugas mata kuliah ilmu kesehatan masyarakat
• Agar kita sebagai mahasiswa khususnya mahasiswa kebidanan, sehingga mengetahui serta memahami tentang pelayanan kesehatan reproduksi pada PUS, WUS dan menopause / klimakterium.

BAB II
ISI

Pelayanan Kesehatan Reproduksi
1. PUS dan WUS
Tidak semua pasangan usia subur (PUS), memiliki reproduksi yang sehat dalam pengertian memiliki kesuburan yang siap dibuahi atau membuahi. Untuk mengatasi hal tersebut sebagian besar PUS memilih untuk mendapatkan anak melalui konsepsi buatan.
Setiap pasangan suami-isteri yang telah menikah selalu menginginkan untuk memiliki anak atau keturunan. Anak dapat diperoleh melalui hubungan intim suami dan isteri (anak kandung) atau dapat dilakukan dengan cara mengadopsi anak dari pasangan lain (anak angkat/anak piara). Namun yang sangat diharapkan oleh setiap pasangan adalah memiliki anak kandung.
Namun dalam kenyataan hidup, ada pasangan yang isterinya tidak dapat hamil karena adanya gangguan infertilitas/ketidaksuburan pada salah satu diantara pasangan tersebut baik isteri maupun suami. Sehingga harapan untuk mendapatkan anak melalui hubungan intim suami isteri sulit tercapai. Hal ini mendorong pasangan yang mengalami masalah infertilitas untuk mencari jalan keluar, yang salah satu caranya adalah melaui konsepsi buatan atau bayi tabung.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi terutama dibidang kedokteran, telah berhasil melakukan konsepsi buatan. Penyelidikan IVF dimulai di Inggris oleh Robert Edwards dan Patrick Steptoe, yang berhasil melahirkan bayi tabung pertama di dunia pada tahun 1978, diikuti bayi tabung kedua (pertama di Amerika Serikat) pada tahun 1981 di Norfolk. Sedangkan di Indonesia bayi tabung pertama lahir pada tanggal 2 Mei 1988 di Jakarta oleh program Melati RSAB Harapan Kita, (Hanifa Wiknosastro, Ilmu Kebidanan, hal 937). Dengan demikian pada dasarnya konsepsi buatan atau bayi tabung diperbolehkan sepanjang tidak melanggar norma, agama, etika, hukum, dan HAM serta memenuhi persyaratan medis.
Pelayanan yang diberikan kepada PUS adalah
a. Dimana apabila datang seorang wanita dengan calon suaminya,ia mengatakan akan menikah dan meminta suntik catin maka kita sebagai tenaga kesehatan berhak melayaninya dan memberikan suntik catin kepada pasangan usia subur tersebut.
b. Memberikan pengetahuan bagaimana sikap seorang PUS ini harus sesuai dengan kodratnya, tidak sama dengan sebelum dia menikah, atau masih gadis. Dia harus mampu melayani suaminya, bukan kebutuhan bathiniah saja tapi rohaniah dan yang laennya juga.
c. Apabila seorang wanita datang untuk memakai KB maka bidannya harus menanyakan apakah suaminya setuju dengan ia memakai KB. Bila perlu si wanita tadi datang bersama suaminya, jadi suaminya juga ikut dalam menentukan kontrasepsi yang baik dan aman untuk istrinya.
d. Apabila PUS datang untuk konsling, maka kita sebagai bidan harus mau mendengarkan keluh kesah dari pasien tersebut,apabila ia minta pendapat maka kita sebagai bidan memberikannya nasihat- nasihat atau solusi bagaimana cara mengatasi masalahnya tersebut.
e. Apabila seorang wanita yang ingin menikah datang kepada kita maka ada baiknya kita membekali sedikit ilmu pengetahuan tentang kesehatan reproduksi kepada wanita tersebut agar sekurang- kurangnya ia mengerti apa itu kesehatan reproduksi yang harus di jaga selalu oleh seorang wanita.
2. Menopouse atau klimakterium
Menopouse adalah haid terakhir atau saat tejadinya haid terakhir. Diagnosis menopouse di buat setelah terdapat amenore sekurang- kurangnya satu tahun. Umur waktu terjadinya menopouse di pengaruhi oleh keturunan, kesehatan umum dan pola kehidupan. Disini orang yang mengalami menopouse di temuan beberapa hal nyata yang dapat dilihat yaitu
a. Perubahan kejiwaan, perubahan kejiwaan yang dialami seorarng wanita menjelang menopouse meliputi merasa tua, tidak menarik lagi, rasa tertekan karena Tkut menjadi tua, mudah tersinggung, mudah kaget sehingga jantung berdebar dan rasa takut bahwa suami akan menyeleweng.
b. Perubahan fisik, pada perubahan fisik seorang wanita mengalami perubahan kulit. Lemak bawah kulit berkurang sehingga kulit menjadi kendor. Kulit menjadi mudah terbakar sinar matahari. Pada kulit timbul bintik hitam
Perubahan wanita menuju masa baya antara 50- 65 tahun
• Fase pra menopouse, wanita mengalami kekacauan pola haid, perubahan psikologis dan perubahan fisik. Terjadi pada usia antara 48 – 55 tahun.
• Fase menopouse, terhentinya menstruasi. Perubahan dan keluhan psikologis dan fisik makin menonjol. Berlangsung pada usia antara 56- 60 tahun.
• Fase panca menopouse, terjadi pada usia di atas 60 – 65 tahun. Wanita beradaptasi terhadap perubahan psikologis dan fisik. Keluhan makin berkurang
Pelayanan yang dapat diberikan kepada wanita yang mengalami menopouse ini adalah
1. Kita sebagai bidan mengarahkan kepada wanita yang mengalami menopouse ini untuk dapat menghindari perubahan kejiwaan. Maksudnya disini yaitu dengan berdasarkan atas keharmonisan keluarga dan saling pengertian. Di tengah keluarga yang harmonis kesiapan menerima proses penuaan makin besar tanpa menghadapi gejala klinis yang berarti
2. Kita memberi tips- tips atau pengetahuan- pengetahuan untuk dapat agar si ibu tadi senang, misalnya dengan cara memberikan tips tips ringan untuk menghindari penuan kulit terlalu cepat. Misalnya menganjurkan ibu jangan terlalu gemuk, sehingga hilangnya lemak bawah kulit tidak terlalu kentara, atau menghindari sebanyak mungkin sinar matahari, karena ultra violet dapat merusak kulit dan menimbulkan kanker kulit dan informasi- informasi ringan lainnya
3. Memberitahu bagaimana cara mempertahankan aktifitas fisik. Misalnya dengan senam untuk menambah kesegaran jasmani. Mengikuti senam kesegaran jasmani sebanyak 2 kali seminggu sudah cukup untuk mempertahankan kebugaran fisik.
4. Menganjurkan ibu untuk selalu melakukan pemeriksaan rutin pada masa- masa menopouse ini. Misalnya pemeriksaan rutin sederhana saja yaitu seperti pemeriksaan fisik umum ( tekanan darah,nadi, suhu, pernapasan,pemeriksaan perut, dan pemeriksaan payudara. Pemeriksaan fisik khusus terhadap kewanitaannya dan memeriksa dengan alat. Dan juga melalukan pemeriksaan laboratorium rutin seperti pemeriksaan gula darah lengakp, urine lengkap,pemeriksaan kolesterol dll.
5. Memberikan konsling- konsling sehingga terpecahkan masalah yang dikemukakannya tadi. Keluhan- keluhan yang terjadi dapat diatasi dengan baik.
Sampai akhir abad ini di indonesia akan dijumpai sekitar 8- 10 % lansia dan wanita akan lebih banyak dibandingkan dengan kaum pria. Kesehatan mereka harus mendapat perhatian, oleh karena mereka telah berjasa sepanjang pengabdiannya, sehingga tercapai kebahagiaan serta kesejahteraan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar